Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Refleksi

Gambar
[Bukan Cerpen] Lampu remang-remang merefleksikan bayangan di dinding. Hawa dingin mengelus kulit. Berry melihat dari kejauhan. Badannya merinding. Sesosok terefleksi di dinding. Bayangan itu duduk di kursi dan meja bundar. Seperti menanti sesuatu. Jasad-jasad bergelimbangan di lantai. Suasana semakin mencekam. Ia tak berani mendekati maupun menengok ke belakang. Ia bersembunyi di balik tembok. PRANNGG Tanpa sengaja pot bunga di atas meja tersenggol jatuh. Perasaanya tak karuan. Sesosok bayangan itu seperti menatapnya. Pandangan sesosok itu menuju ke arahnya. “Arghh apa yang harus aku lakukan, tak ada tempat lari lagi,” guman Berry dalam hati. Sesosok bayangan itu berdiri. Ia mengambil serbet, dikibaskannya. Tampak dari refleksi di dinding, sesosok itu mengeluarkan sesuatu. Sebuah pistol. Sesosok itu mengelap pistol dengan serbetnya. Bulu kuduk Berry berdiri, tak tahu apa yang akan terjadi. PRAAANGGG Tembakan pertama dilepaskan, mengenai lampu gantung. R

Malaikatku

Gambar
[Bukan Cerpen] Apakah ini fatamorgana dunia?. Apa ini seperti dikatakan Raja Semesta?. Siapa dia?. Mengapa dia meneteskan air mata?. Apakah dia malaikatku , seperti dikatakan Raja Semesta?.              Hai malaikatku, mengapa engkau menangis? Apa yang engkau tangisi?. Apa arti tangisanmu itu? Sedihkah atau bahagiakah? Sudahlah malaikatku , janganlah terus menangis. Raja semesta bilang engkaulah sang penyayang dan pengasih.             Aku ingin bicara denganmu malaikatku. Namun telinga ini menangkap sesuatu yang tidak aku mengerti. Mulut ini seakan tak sinkron dengan perintahku. Aku hanya bisa melihat. Yang ku mengerti hanya lewat mata ini termasuk engkau malaikatku.              Engkau tahu malaikatku? Dunia ini sangatlah indah. Segalanya menarik. Aku ingin memegang, meraba, dan merasakan segalanya . Raja Semesta bilang setiap benda di dunia ini punya nama. Aku tak tahu berapa banyak pastinya, mungkin jutaan atau milyaran. Pasti sangat melelahkan memegang, mer

Sebuah Ikatan Baru: IAIC Bandung

Gambar
Masa-masa indah di Insan Cendekia (IC) telah berlalu. Tiga tahun yang lalu masa-masa yang hebat, penuh kenangan, kebahagian tapi juga kesedihan. Kebahagian bertemu, canda, dan tawa dengan teman-teman se-iman. Kesedihan disaat teman-teman mengalami masalah baik akademik maupun non akademik. Namun, kesedihan tak berlangsung lama setelah kami bisa mengalami masa-masa sulit bersama. Peluh dan rasa lelah pun terbayarkan setelah kami mampu menembus mimpi masing-masing di perguruan tinggi impian. Tiga tahun yang lalu itu kenangan yang tak terlupakan. Namun, kini kami telah menyebar ke segala penjuru demi menggapai impian lebih mulia. Masa kini berbeda jauh selama tiga tahun yang lalu. Kesibukan dan kebebasan yang lebih dari biasanya. Perlu adaptasi ekstra untuk mengubah dulunya kami diatur sekarang menjadi yang mengatur terhadap diri kami. Walau kini kami berbeda-beda jauh namun sebenarnya kami tak sendiri. Di IC kami mengenal teman-teman asrama yang menjadi kegilaan bersama