Melangkah 10 - Visi Keluarga


Kebanyakan kasus perceraian rumah tangga disebabkan oleh ketiadaan visi dalam keluarga dan masalah komunikasi. Tidak sedikit orang belum menyadari apa arti sesungguhnya dari visi keluarga, mungkin ada saja yang berpikir bahwa membangun keluarga adalah tentang mempunyai keturunan, lalu hidup mapan. Namun bagiku visi tidak cukup sampai disitu, visi seharusnya spesifik dan dapat terukur sehingga kita bisa mengevaluasi seberapa jauh jalan yang telah kita tempuh menuju visi tersebut.

Visi sangat berbeda dengan mimpi dan tujuan. Bila mimpi adalah sesuatu yang diinginkan, maka visi adalah sesuatu yang diusahakan segenap tenaga. Bila tujuan adalah sesuatu yang akan dilakukan, maka visi adalah tujuan besar yang menjadi bahan bakar dalam hidup kita. Bagiku visi keluarga adalah salah satu modal dalam berkeluarga, hal-hal materi bisa saja habis dan hilang namun modal visi takkan habis dan sesuatu yang layak diperjuangkan dalam hidup.

Visi keluarga memang penting, namun visi itu bukan lah sesuatu yang mutlak dan harus tercapai. Yang terpenting adalah prosesnya, melalui visi akan membimbing kita kemana akan melangkah dan harus melakukan apa. Langkah demi langkah dalam setiap proses serta koridor visi akan menjadikan kita lebih baik setiap saat sebab visi telah terukur, sehingga dapat dievaluasi.

Lalu seperti apakah visi keluarga itu? Visi keluarga adalah sesuatu yang perlu disepakati bersama dalam keluarga, sehingga timbul sense of belonging untuk memiliki visi tersebut. Namun kita sebagai muslim perlu menyadari bahwa kita telah dibekali Al-Qur’an yang memuat berbagai tuntunan hidup, sehingga kita cukup memilih yang menjadi fokus dalam pencapaian visi kita.

Untuk saat ini aku menggambarkan visi keluargaku seperti sebuah bangunan rumah dimana fondasinya adalah ketakwaan, kemudian dinding-dindingnya adalah keimanan, lalu perhiasaanya adalah akhlak, dan rumah tersebut diterangi oleh cahaya kecintaan Al-Qur’an. Lalu rumah ini memiliki air, tumbuhan, dan makanan yang setiap orang dapat mengambil manfaatnya.

Untuk menjadikan gambaran tersebut menjadi sebuah visi keluarga, kita perlu mendefinisikannya menjadi langkah-langkah kecil dimulai dari pembangunan habit atau kebiasaan. Lebih dari 40 persen dari apa yang kita lakukan adalah sebuah respon dari kebiasaan yang kita bangun secara sadar maupun tidak sadar. Misalnya dari gambaran tersebut kita ingin menjadikan rumah yang diterangi cahaya kecintaan Al-Qur’an maka salah satu habit yang perlu dibangun adalah kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari dengan membaca, menghafal, ataupun memahaminya.

Setiap keluarga boleh saja berbeda dalam visinya, namun yang perlu diingat adalah visi tersebut harus bisa melampaui jauh dari sekedar hidup kita di dunia karena tujuan kita melangkah bukan hanya di dunia. Visi juga boleh saja sekali-kali berubah, semakin berlalunya waktu akan semakin paham dengan potensi masing-masing keluarga. Bila perlu mengadakan pertemuan tahunan untuk membahas evaluasi visi keluarga.

Akhir kata, semoga kita dimudahkan dan diberkahi dalam setiap langkah dalam memperjuangkan visi kita.

Komentar

Popular Posts

Ulasan Buku “Smarter Faster Better – Charles Duhigg” : Delapan Rahasia untuk Mendorong Produktivitas dalam Bekerja

Ulasan Buku “Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager – M. Syafii Antonio “ : Sang Suri Tauladan Sepanjang Masa

Ulasan Buku “Master Your Time Master Your Life” : Strategi Jitu Mengatur Waktu