Melangkah 11 - Seni Hidup Minimalis


Kita mungkin secara tidak sadar tiba-tiba mendapati tempat tinggal kita penuh sesak dengan barang, entah itu barang yang dibeli maupun diberi. Ketika kita menyadari hal tersebut lalu kita membereskannya, namun hal yang serupa secara tidak sadar teralami kembali.

Francine Jay dalam bukunya “The Joy of Less” memberikan solusi atas masalah keseharian ini. Kita selalu peduli terhadap bagaimana membangun hubungan kita dengan sesama, namun kita sering lupa tentang bagaimana membangun hubungan kita dengan barang. Ya dengan barang-barang, walaupun barang-barang adalah benda mati namun kehidupan kita tak pernah lepas dengan barang-barang di sekitar kita seperti pakaian, buku, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

Memiliki barang berarti kita dituntut untuk membersihkannya, merawatnya agar tidak mudah rusak, serta menjaga barang tersebut agar tetap awet. Dengan menambah barang berarti kita juga menambah tanggungjawab. Oleh sebab itu, Francine Jay melalui bukunya mengenalkan bagaimana seharusnya kita bisa hidup minimalis dengan memiliki barang-barang seperlunya.

Hidup minimalis bukan berarti kita pelit terhadap diri kita sendiri, akan tetapi hidup minimalis ialah tentang memberikan ruang dalam hidup kita. Sejatinya bukan sebuah guci antik yang memberikan keindahan pada guci tersebut, namun sebuah ruang yang menyediakan tempat yang cocok sehingga guci tersebut terlihat sangat menarik. Ya, hidup kita memang perlu ruang-ruang kosong yang kemudian bisa diisi oleh pengalaman baru, barang-barang istimewa serta hal-hal yang luar biasa. Untuk itu hidup minimalis dalam hubungan kita dengan barang yakni perlu memilah barang apa saja yang memang sesuai dengan hidup kita. Dengan memiliki lebih sedikit barang kita belajar untuk memerdekakan diri kita sendiri.

Selain itu dalam hidup minimalis kita perlu mengatur pergerakan keluar masuk dari barang kita. Kita harus tahu kegunaan tiap barang yang dimiliki. Terdengar sederhana, namun seringkali kita abai. Terkadang kita membeli barang, tetapi pada akhirnya malah menumpuk dan tidak digunakan. Dengan mengetahui kegunaan tiap barang, kita akan terhindar dari membeli barang karena lucu, langka, apalagi menghamburkan uang.

Memiliki banyak barang belum tentu membuat hidup kita bahagia, malah sebaliknya. Banyak barang justru menambah tanggungjawab kita untuk merawat barang-barang itu, sehingga hanya ada sedikit ruang untuk bisa menikmati barang yang ada. Dengan membatasi barang, kita diajak untuk membatasi diri dan berfokus pada hal-hal yang lebih esensial. Juga sebuah cara yang baik untuk meminimalisir budaya konsumtif serta membebaskan diri dari keinginan sehingga dapat membuat kita bernapas lebih lega.

Salah satu teknik untuk mengatur barang-barang kita adalah dengan memilah barang dalam tiga kategori yakni simpan, buang, dan berikan. Pilihlah barang-barang yang memiliki nilai kegunaan untuk disimpan serta batasi pada jumlah yang memang cukup. Lalu buang barang-barang yang jarang digunakan dan tidak bernilai, serta berikan barang-barang yang memiliki nilai dan bisa digunakan oleh orang lain.

Dengan hidup minimalis, kita belajar untuk menjadi sederhana, tidak kurang dan tidak pula berlebihan. Bayangkan di dunia ini kita hidup bersama dengan lebih dari tujuh miliar orang. Ruang dan sumber daya kita terbatas. Lalu bagaimana sumber daya yang ada cukup untuk menjamin semua orang hidup di bumi? Caranya kita menggunakan sumber daya seperlunya. Kalau kita boros bisa jadi kita mengorbankan hak orang lain, baik saat ini maupun di masa depan. Oleh karena itu, hiduplah dengan sederhana, agar orang lain dapat hidup.

Komentar

Popular Posts

Ulasan Buku “Smarter Faster Better – Charles Duhigg” : Delapan Rahasia untuk Mendorong Produktivitas dalam Bekerja

Ulasan Buku “Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager – M. Syafii Antonio “ : Sang Suri Tauladan Sepanjang Masa

Ulasan Buku “Master Your Time Master Your Life” : Strategi Jitu Mengatur Waktu