Ulasan Buku “Ekonomi Islam dan Mekanisme Pasar” : Harapan Ekonomi Islam di Tengah Ketidakpuasan Ekonomi Kapitalis dan Sosialis


Sistem ekonomi kapitalis telah gagal merealisasikan pemerataan. Kemakmuran yang telah terjadi sebelumnya tidak sepenuhnya berhasil menghapuskan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pokok setiap orang. Dalam buku “Ekonomi Islam dan Mekanisme Pasar” ini menyajikan konsep ekonomi islam ditengah ketidakpuasan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.

Ekonomi kapitalis menghendaki pasar bebas untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi mulai dari produksi, konsumsi, dan distribusi. Semboyan kapitalis adalah lasses faire et laissez le monde va de lui meme (Biarkan ia berbuat dan biarkan ia berjalan, dunia akan mengurus sendiri). Menurut konsep tersebut, pasar yang paling baik adalah persaingan bebas kemudian harga dibentuk oleh kaidah permintaan dan penawaran.

Tidak ada keraguan bahwa sistem ekonomi kapitalis telah merealisasikan kemakmuran seperti perekonomian barat. Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi terwujud berkat ekspansi ekonomi yang luas. Namun, pada kenyataannya sistem ekonomi tersebut tidak menunjukkan simetri antara kepentingan individu dan sosial. Ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan justru semakin meningkat. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi dan pengganguran yang tinggi semakin memperburuk keadaan rakyat miskin. Ini menunjukkan bahwa efisiensi dan pemerataan masih samar, meskipun telah terjadi pembangunan yang cepat dan pertumbuhan yang luar biasa.

Sementara itu, sistem ekonomi sosialis yang dikembangkan oleh Karl Max menghendaki peran maksimal oleh negara. Negara menguasai segala sektor ekonomi untuk menjamin keadilan kepada rakyat mulai dari produksi hingga distribusi. Pasar dalam paradigma sosialis dijaga agar tidak sampai jatuh ke tangan kapitalis yang memungkinkan monopoli.

Menurut pandangan sosialis, harga-harga ditetapkan oleh pemerintah, penyaluran barang dikendalikan oleh pemerintah sehingga tidak akan terjadi kebebasan pasar. Oleh karena itu, sistem ini menekan ketidakpercayaan kemampuan manusia untuk berbuat demi kepentingan masyarakat. Selain itu, sistem ekonomi sosialis sangat membelenggu kebebasan individu dan motif memperoleh keuntungan serta eliminasi hak properti.

Dari perkembangan zaman hingga saat ini dapat disaksikan bahwa kedua sistem tersebut telah gagal  merealisasikan sasaran-sasaran yang diinginkan seperti pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, kesempatan kerja penuh, distribusi kekayaan, dan pemerataan pendapatan. Sementara itu, keadilan dan stabilitas semakin jauh di ufuk mata.

Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, konsep sistem ekonomi islam mulai dilirik baik oleh Timur maupun Barat. Ekonomi Islam memandang bahwa pasar, individu, dan negara berada dalam keseimbangan, tidak boleh ada yang saling dominan di antara yang lain. Konsep Islam menegaskan bahwa pasar harus berdiri berdasarkan prinsip persaingan bebas. Namun, bukan berarti dibebaskan secara mutlak, akan tetapi kebebasan yang dibungkus oleh frame Syariah. Pengajaran Islam tentang pasar harus dilakukan secara baik dan sukarela.

Sumber karakteristik ekonomi Islam adalah Islam itu sendiri yang meliputi tiga asas pokok yakni Asas Akidah, Asas Akhlak, dan Asas Kemanusiaan. Asas Akidah yaitu sistem ekonomi bercirikan ketuhanan dimana semua yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan oleh Allah sebagai sumber manfaat ekonomi bagi manusia. Kemudian Asas Akhlak yakni sistem ekonomi berlandaskan etika dimana individu maupun kelompok tidak secara mutlak bebas menginvestasikan modalnya tanpa berlandaskan akhlak dan etika. Selanjutnya, Asas Kemanusiaan yaitu sistem ekonomi yang berkarakter kemanusiaan dimana menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi untuk menjalin kerja sama, tolong menolong, dan menjauhkan sikap iri, dengki, dan dendam.

Sistem ekonomi Islam memiliki pijakan yang sangat tegas jika dibandingkan dengan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis yang saat ini mendominasi dunia. Sistem ekonomi kapitalis lebih menghendaki kebebasan individu yang tak terbatas dalam memperoleh keuntungan. Lalu, sistem ekonomi sosialis menekankan aspek pemerataan ekonomi yang menentang perbedaan kelas dan menganut asas kolektivitas.

Sistem ekonomi Islam menempatkan etika pada posisi yang paling tinggi. Dalam pandangan Islam etikalah yang seharusnya menguasai ilmu ekonomi, bukan sebaliknya. Sedangkan ilmu ekonomi konvensional secara tegas memisahkan antara aspek positif dan normatif. Pemisahan aspek normatif dan positif mengandung implikasi bahwa ekonomi merupakan sesuatu yang independen terhadap norma, tidak ada kausalitas antara norma dan fakta.

Sementara di Indonesia sendiri, sistem ekonomi dan keuangan Islam dalam dasawarsa ini mulai memperlihatkan eksistensinya sebagai alternatif baru dari sistem ekonomi sosialisme yang dianggap telah berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet dan juga sistem kapitalisme yang kerap melahirkan krisis finansial dan moneter. Banyak kalangan menilai sistem ekonomi Islam akan terus tumbuh dan berkembang. Keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian merupakan tujuan mulia yang ingin diraih oleh sistem ekonomi Islam. 

Pengulas : Miftahul Arifin

Komentar

Popular Posts

Ulasan Buku “Smarter Faster Better – Charles Duhigg” : Delapan Rahasia untuk Mendorong Produktivitas dalam Bekerja

Ulasan Buku “Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager – M. Syafii Antonio “ : Sang Suri Tauladan Sepanjang Masa

Ulasan Buku “Master Your Time Master Your Life” : Strategi Jitu Mengatur Waktu